Advertiser 2
0
Minggu, 18 April 2010 Post By: icha

Ciri-ciri pengikut rasulullah

Ciri-ciri pengikut rasulullah
________________________________________1) Berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dalam segala perkara khususnya ketika terjadi perbedaan pendapat.

Allah berfirman :
“Maka jika kalian berbeda pendapat dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir”
( QS. An Nisa : 59 )


بسم الله الرحمن الرحيم

1) Berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dalam segala perkara khususnya ketika terjadi perbedaan pendapat.
Allah berfirman :
“Maka jika kalian berbeda pendapat dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir”
( QS. An Nisa : 59 )



2) Memahami Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman para shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan tidak dipahami sesuai dengan hawa nafsu maupun tokoh tertentu.

Allah berfirman :
“Generasi pertama shahabat muhajirin dan anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridloi mereka dan merekapun ridlo kepada Allah dan Allah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya itulah keberuntungan yang besar”
( QS. At Taubah : 100 )

3) Tetap istiqomah di atas kebenaran Al Quran dan As Sunnah walaupun dihina dan dijauhi oleh masyarakatnya, Rasulullah bersabda :
“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang terang-terangan di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang menghina mereka sampai datang perintah Allah (angin dingin yang mencabut nyawa setiap orang yang memiliki keimanan menjelang kiamat)”
( HR. Imam Muslim )

4) Tidak taqlid kepada madzhab atau tokoh tertentu tetapi melihat dalil yang dipakai. Bila sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, diterima. Bila tidak, maka ditolak siapapun yang mengucapkannya.

Imam Malik, Rahimahullah berkata :
“Setiap orang bisa diambil ucapannya dan bisa ditolak kecuali Nabi ”
( Minhaj Al Firqoh An Najiyah : 10 )

5) Tidak pilih-pilih syariat, semua perintah Allah dan Rasul-Nya dilaksanakan semampunya dan semua larangan ditinggalkan tanpa terkecuali.


0
Senin, 05 April 2010 Post By: icha

Latar Belakang Berdirinya Jemaat Ahmadiyah

Latar Belakang Berdirinya Jemaat Ahmadiyah
• Tokoh yang dijanjikan di dalam Alquran
• Prolog
• Latar belakang keluarga Hz.Mirza Ghulam Ahmad
• Kelahiran & pendidikan awal
• Zaman pergolakan & perubahan dunia
• Kebangkitan Kristen

0
Post By: icha

Latar Belakang Berdirinya Jemaat Ahmadiyah

Latar Belakang Berdirinya Jemaat Ahmadiyah
• Tokoh yang dijanjikan di dalam Alquran
• Prolog
• Latar belakang keluarga Hz.Mirza Ghulam Ahmad
• Kelahiran & pendidikan awal
• Zaman pergolakan & perubahan dunia
• Kebangkitan Kristen
• Kebangkitan gerakan neo-Hindu
• Buku Barahiin Ahmadiyyah
• Reaksi & dukungan ummat bagi Barahiin Ahmadiyyah
• Reaksi pendukung & permintaan untuk menerima baiat
• Reaksi & penentangan dari pihak non-Islam
• Penda'waan Hz.Mirza Ghulam Ahmad & gelombang penentangan
• Karya-karya Tulis Hz.Mirza Ghulam Ahmad
• Media-media massa yg diterbitkan oleh Hz.Mirza Ghulam Ahmad
• Gerakan Al-Wasiyyat & kewafatan
• Silsilah Khilafat & perkembangan Ahmadiyah di seluruh dunia
• Ahmadiyah di Indonesia
Tokoh yang dijanjikan di dalam Alquran
"Huwallazii arsala rasulahuu bilhudaa wa diinilhaqqi, liyuzh-hirahuu alad-diini kullihi walaw karihal-musyrikuwn"
Dialah [Allah] yang mengirimkan Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia menyebabkannya menang atas semua agama, betapapun orang-orang musyrik tidak akan menyukai (As-Shaf:10).
Ayat ini mengisyaratkan pada kemenangan Islam atas seluruh agama lainnya. Dan kemenangan tsb. dipakukan dibawah bendera Tauhid. Sebab Tauhid lah yang dapat mempersatukan seluruh umat manusia. Dan Tauhid itu sendiri merupakan ruh Islam. Kesempurnaan Syariat Islam telah terjadi di masa dan di tangan Rasulullah saw. 14 abad yang silam. Namun kesempurnaan penyebaran Syariat Islam, seperti yang diisyaratkan oleh Allah Ta'ala dan Rasulullah saw., adalah pada masa dan di tangan tokoh yang dijanjikan sebagai Masih Mau'ud dan Imam Mahdi
"Huwallazii ba'atsa fil-ummiyyina rasulanm-minhum yatluw alaiihim aayaatihii wayuzakkiihim wayu'allimuhumul-kitaaba wal-hikmah, wain kaanuw min-qoblu lafii dholalinm-mubiin. Wa'aakhoriina minhum lammaa yalhaqquw bihim wahuwal-aziizul hakiim"
Dialah [Allah] yang telah mengutus di tengah-tengah bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dan Dia akan membangkitkannya di tengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bergabung dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Al-Jumu'ah:3-4).
Ayat ini mengisyaratkan pada kebangkitan rohaniah Rasulullah saw. (the second spiritual advent) dalam wujud seseorang yang menyatu sepenuhnya dengan beliau dan merupakan cerminan rohaniah atau bayangan kamil Rasulullah saw., namun belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa beliau hidup. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadis Nabi saw. yang termasyhur tertuju kepada pengutusan Rasulullah saw. sendiri untuk kedua kali dalam wujud Masih Mau'ud di akhir zaman.
[Kembali ke Atas]
Prolog
Jemaat Ahmadiyah adalah suatu gerakan dalam Islam yang didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. pada tahun 1889, atas perintah Allah Ta'ala. Ahmadiyah bukanlah suatu agama. Agamanya adalah ISLAM. Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi Kalimah Syahadat "Laa ilaha Illallah, Muhammadur-rasulullah". Jemaat Ahmadiyah bersaksi bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah rasul Allah.
Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi kitab suci Al-Quran sebagai Kitab Syariat terakhir yang paling sempurna, hingga kiamat.
Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi Sayyidina Muhammad Mustafa Rasulullah shallallahu alaihi wa'aalihi wassallam sebagai Khataman-nabiyyiyn yang merupakan penghulu dari sekalian nabi dan nabi yang paling mulia. Beliau adalah nabi pembawa syariat terakhir. Penutup pintu kenabian tasyri'i. Tidak ada lagi nabi pembawa syariat baru sesudah Rasulullah saw..
Nama Ahmadiyah berasal dari nama sifat Rasulullah saw. -- Ahmad (yang terpuji). Yakni yang menggambarkan suatu keindahan/kelembutan. Zaman sekarang ini adalah zaman penyebar-luasan amanat yang diemban Rasulullah saw. dan merupakan zaman penyiaran sanjungan pujian terhadap Allah Ta'ala. Era penampakkan sifat Ahmadiyah Rasulullah saw.. (Da'watul Amir, M.Bashiruddin Mahmud Ahmad, edisi terj.Bhs.Indonesia, 1989,h.2)
Tujuan Jemaat Ahmadiyah adalah Yuhyiddiyna wayuqiymus-syariah. Menghidupkan kembali agama Islam, dan menegakkan kembali Syariat Qur'aniah.
Dalam arti yang lebih mendalam adalah untuk menghimbau ummat manusia kepada Allah Ta'ala dengan memperkenalkan mereka sosok sejati Rasulullah saw., dan menciptakan perdamaian serta persatuan antar berbagai kalangan manusia. Ahmadiyah berusaha menghapuskan segala kendala yang timbul karena perbedaan ras dan warna kulit sehingga umat manusia dapat bersatu dan mengupayakan perdamaian semesta.
Kami beriman bahwa Allah itu Mahaesa dan tidak mempunyai sekutu dalam zat-Nya maupun dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dilahirkan maupun melahirkan. Dia bebas dari segala jenis kekurangan dan kelemahan dan sempurna di dalam segala sifat-Nya. Dia mengabulkan doa-doa para hamba-Nya dan membantu mereka dalam memenuhi segala keperluan mereka. Nikmat-nikmat-Nya, baik secara materi ataupun rohani, tidak terbatas, dan tidak hanya dilimpahkan kepada suatu bangsa atau kaum tertentu. Jemaat Ahmadiyah menganggap sebagai kewajibannya untuk mengimbau umat manusia menerima Tauhid Ilahi, sebab, penerimaan Tauhid Ilahi dapat mewujudkan perdamaian dan persatuan diantara umat manusia.
Kami percaya bahwa semua agama besar pada awalnya mempunyai landasan kebenaran dan masih mengandung banyak nilai keindahan. Kami menolak dan menyangkal sikap yang menyatakan bahwa tidak ada agama selain agamanya sendiri yang mengandung suatu kebenaran atau nilai keindahan. Kendatipun demikian, kami menganggap sebagai kewajiban kami untuk mengumandangkan bahwasanya Islam mengandung tuntunan Samawi dengan bentuknya yang utuh dan sempurna guna membimbing umat manusia mencapai hubungan kedekatan dengan Allah Ta'ala.
Kami menjunjung tinggi kebebasan suara hati lebih dari segala kemerdekaan dan sebagai hak-hidup setiap makhluk manusia. Kami memandang tidak ada dosa yang begitu keji seperti tindakan paksa atau kekerasan dalam urusan agama. Kami memandang haram untuk berperang atau memerangi pemerintah atau bangsa yang memberi kemerdekaan penuh kepada penyuaraan kata hati dan agama orang-orang yang menghuni wilayah-wilayahnya. Kami memandang orang-orang Islam yang mensahkan perang disebabkan perbedaan dalam urusan agama adalah sebagai kesalahan besar dalam memegang akidah yang sama-sekali tidak sesuai dengan jiwa agama Islam yang hakiki ini.
Kami menganggap sebagai kewajiban agama yang pokok untuk mentaati sepenuhnya undang-undang dan peraturan pemerintah tempat kami bernaung. Kami memandang pemberontakan dan pembangkangan terhadap pemerintah yang berkuasa sebagai sesuatu yang sama-sekali tidak dibenarkan dan bertentangan dengan ajaran Islam. Kami memegang prinsip ini dengan seteguh-teguhnya dimana pun kami berada.
Kami percaya bahwa janji Tuhan yang diberikan-Nya kepada umat manusia melalui semua agama besar mengenai turunnya seorang nabi di akhir zaman telah menjadi kenyataan di dalam diri Hz.Mirza Ghulam Ahmad as., pendiri Jemaat Ahmadiyah. Beliau adalah Almasih yang ditunggu-tunggu oleh umat Kristen; Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam; dan Krishna yang dinanti-nantikan oleh umat Hindu. (Dikutip dari: Akidah Dan Tujuan Jemaat Ahmadiyah; Suvenir Peringatan Seabad Gerhana Bulan & Gerhana Matahari 1894-1994, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1994, h.46-47).
[Kembali ke Atas]
Latar Belakang Keluarga Hz.Mirza Ghulam Ahmad
Hz.Mirza Ghulam Ahmad berasal dari suatu rumpun keluarga yang merupakan pendatang dari Samarqand, sebuah kota di Asia Tengah. Nenek-moyang beliau hijrah dari Samarqand menuju Punjab, India pada awal abad keenambelas, di masa kekuasaan Emperor Babar dari Dinasti Moghul. Mereka memohon untuk dapat berkhidmat kepada dinasti tsb. dan mendapat kepercayaan di kawasan Punjab. [Lihat karangan-karangan Lepel H. Griffin: The Punjab chiefs (Lahore,1865),h.380-381; The Panjab chiefs (edisi baru, Lahore,1890),vol.2,h.49-50; Chiefs and families in the Panjab..., dikoreksi dan direvisi oleh W.L.Conran dan H.D.Craik (Lahore,1910),vol.2,h.40-41. Tentang silsilah keturunan keluarga tsb. lihat: Revised pedigree tables of the families mentioned in Griffin's "Punjab chiefs" and Massy's "Chiefs and families of note in the Punjab" (Lahore,1899),h.76. Sumber:Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,h.2]
Beliau adalah keturunan dari Haji Barlas, yang merupakan paman Amir Timur. Timur berasal dari suku Barlas yang terkenal dan yang menguasai kawasan Kish selama 200 tahun. Kawasan ini pada zaman dahulu dikenal dengan nama Sogdiana, yangmana ibukotanya adalah Samarkand. Mereka adalah suku yang berakar dari Persia. Kata Samarkand itu sendiri berasal dari Bhs.Farsi. Barlas juga demikian, artinya: pemuda gagah berani dari kalangan terhormat. Mirza Hadi Beg memimpin hijrah dari Samarkand tsb. menuju Punjab, India, dengan membawa rombongan sekitar 200 orang. Mereka membangun sebuah perkampungan yang tidak begitu jauh dari sungai Bias, dan menamakannya Islampur. Emperor Babar memberikan kepada beliau kawasan yang mencakup ratusan perkampungan. Dan beliau ditunjuk sebagai Qazi disana. Sehingga kampung kediaman beliau itu dikenal dengan nama Islampur Qazi. Akhirnya nama ini tinggal Qazi dan lebih dikenal dengan sebutan Qadi yang kemudian menjadi Qadian. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.7-8)
[Kembali ke Atas]
Kelahiran & Pendidikan Awal
Hz.Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan kembar di Qadian pada tahun 1835. Saudara kembar beliau (perempuan) wafat beberapa hari setelah lahir. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.27)
Semenjak kecil beliau tidak pernah belajar di sekolah/madrasah ataupun suatu institusi pendidikan formal. Pada usia sekitar 7 tahun (sekitar thn.1841) beliau dididik oleh seorang guru privat yang bernama Fazl Ilahi. Ia seorang penduduk Qadian dan penganut mazhab Hanafiah. Ia mengajarkan Al-Quran dan beberapa dasar buku pelajaran bahasa Farsi. Pada usia 10 tahun Hz.Mirza Ghulam Ahmad dididik oleh guru privat bernama Fazl Muhammad. Ia berasal dari Feroze-wala, Gujran-wala, dan dari kelompok Ahli-Hadis. Ia mengajarkan dasar-dasar tata-bahasa Arab. Dan pada usia 17 atau 18 tahun beliau dididik oleh seorang guru Shiah, bernama Gul Ali Shah. Guru ini mengajarkan lebih lanjut tata-bahasa Arab dan juga mantik/logika. Selain itu ayah beliau adalah seorang tabib yang mahir, maka beliau pun memperoleh pendidikan dalam bidang ilmu ketabiban ini. Dan beliau mempunyai kecenderungan banyak menelaah buku-buku. Terutama dari perpustakaan keluarga yang masih terpelihara sejak turun-temurun. (Lihat: Sirrul-Khilafa, Mirza Ghulam Ahmad, Amritsar,1894,h.7; Life ofAhmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.29; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,h.3)
[Kembali ke Atas]
Zaman Pergolakan & Perubahan Dunia
Banyak perubahan dan pergolakan sosio-politik dunia pada masa-masa itu. Imperialisme Barat menampakkan warnanya. Inggris Raya sedang jaya-jayanya hampir di seluruh belahan bumi ini. Namun sejauh yang berkaitan dengan masalah agama Kerajaan Inggris memberikan jaminan kebebasan beragama, khususnya dalam toleransi beragama. Yaitu dengan disahkannya rancangan undang-undang Emansipasi Katolik (Catholic Emancipation Bill) pada tahun 1829, yangmana dasarnya adalah penghapusan diskriminasi dalam perkara-perkara sipil dan kesama-rataan dalam hak-hak politis.
Banyak hal yang merubah pola pikir dan cara hidup dunia. Rancangan pembuatan terusan Suez sudah mulai dijajaki semenjak tahun 1833. Dan Terusan Suez itu selesai dibuat pada tahun 1865. Mesin cetak plat baja sudah ditemukan pada akhir abad ke-18. Dan mesin cetak praktis yang menggunakan tenaga uap pertama kali diproduksi dan digunakan pada tahun 1814. Kenderaan-kenderaan atau alat-alat transportasi praktis yang menggunakan tenaga uap dirancang pada tahun 1802, dan pada tahun 1824 sudah banyak yang beredar dengan sukses. Daimler menemukan internal-combustion-motor pada tahun 1885 yang menggunakan minyak/petroleum spirit. Kapal uap pertama mulai menjelajahi jarak antara Liverpool dan Glasgow pada tahun 1815. Jaringan kereta-api pun mulai dibuka di Inggris pada tahun 1825. Electric telegraphy mulai digunakan pada tahun 1820 sebagai sarana komunikasi antar berbagai tempat di seluruh dunia. Mesin elektro-magnetik mulai digunakan pada tahun 1832. Pada tahun 1846 telah ditemukan sistim anaesthetik. Dan sistim antiseptik dalam perawatan luka mulai diakui pada tahun 1867. Penelitian Pasteur tentang teori kuman pada penyakit-penyakit infeksi dimulai pada tahun 1850. Dan malaria serta tuberculosis ditemukan pada tahun 1880. Penggunaan listrik secara komersial untuk sarana penerangan telah dimulai pada tahun 1879. Dan telephone ditemukan pada tahun 1876. Demikian pula X-ray ditemukan pada tahun 1895. Ringkasnya banyak sekali penemuan-penemuan baru yang mengubah pola pikir dan pola hidup manusia. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24)
[Kembali ke Atas]
Kebangkitan Kristen
Selain itu di bidang keagamaan, missi-missi Kristen mulai bergerak dengan gencarnya di seluruh dunia semenjak tahun 1804, khususnya ketika British & Foreign Bible Society terbentuk. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24)
Bahkan kurun waktu antara tahun 1815 hingga 1914 telah ditetapkan oleh kelompok Kristen sebagai The Great Century of World Evangelization (Abad Agung Penginjilan Dunia). Dan anak-benua India merupakan sebuah sasaran yang dijadikan sebagai proyek besar bagi gerakan penginjilan/kristenisasi itu. Dan jutaan orang masuk ke dalam agama Kristen melalui gerakan-gerakan missionaris Kristen disana. Misalnya: missi-missi Kristen dari Inggris antara lain Methodists masuk ke India pada tahun 1819; Scottish Presbyterians masuk pada tahun 1823. Sedangkan missi-missi Kristen dari Amerika antara lain: Congregationalist (American Board) masuk ke India pada tahun 1810; Presbyterians pada tahun 1834; Baptists pada tahun 1836; Lutherans pada tahun 1840; dan Methodists pada tahun 1856. Kemudian German Gossner Mission masuk pada tahun 1839. Dan Scandinavian Lutherans pada tahun 1867. Dan uniknya Ratu Victoria memproklamirkan kebebasan beragama serta sikap tidak memihak Kerajaan Inggris Raya pada suatu agama, di India pada tahun 1858. (Lihat: World Christian Encyclopedia, David B.Barrett, Oxford,1982,p.23-30)
[Kembali ke Atas]
Kebangkitan Gerakan Neo-Hindu
Bersamaan dengan itu di anak-benua India pun bermunculan kelompok-kelompok Neo-Hindu yang gencar menghadapi perkembangan zaman. Diantaranya yang paling militan dan agressif adalah sekte Arya Samaj(Aryan Society) yang didirikan pertama kali pada tahun 1875 di Bombay oleh Swami Dayananda Saraswati (1824-1883). Ini adalah suatu gerakan yang ingin mengembalikan kemurnian agama Hindu dan menampilkannya sebagai suatu kebanggaan nasional India. Swami Dayananda Saraswati ini mulai mengembangkan ajaran Neo-Hindu-nya sejak tahun 1865. Alirannya banyak menentang pemahaman-pemahaman Hindu Brahma yang ortodox. Selain itu mereka melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kristen maupun Islam. Swami Dayananda Saraswati yang digelari "Hindu Luther" oleh penentangnya, juga menulis sebuah 'Bible' Arya Samaj yang bernama Satyarth Prakash, yang berisikan penafsiran/terapan-terapan ayat Veda yang menggambarkan sikap Hindu terhadap agama-agama lainnya dan terhadap permasalahan-permasalahan sosial kontemporer. Sekte ini berkembang menjamur di India dengan cepat, khususnya di wilayah Punjab. (Lihat:The Raj, India & the British 1600-1947, C.A.Bayly, National Potrait Gallery Publications, London,1990,p.305-306; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.61; Arya Dharm: Hindu consciousness in 19th century Punjab, Kenneth W.Jones, Univercity of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1976; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,foot note p.4)
[Kembali ke Atas]
Buku Barahiin Ahmadiyyah
Kondisi Islam pada saat itu benar-benar menyedihkan. Di satu sisi gerakan Kristenisasi sedang gencar-gencarnya berjalan di India dan menarik ratusan ribu orang masuk ke dalam agama Kristen dan di sisi lain serangan-serangan pihak Hindu terhadap Islam, Al-Quran dan terhadap wujud suci Nabi Muhammad Mustafa saw..
Kondisi inilah yang banyak mewarnai kehidupan awal daripada Hz.Mirza Ghulam Ahmad as.. Beliau banyak menelaah literatur-literatur yang berkaitan dengan agama-agama tersebut. Beliau secara personal banyak terlibat dalam upaya-upaya untuk membela Islam dari serangan-serangan di kedua arah tsb.. Disamping itu beliau sendiri mengalami perkembangan rohaniah.
Sejak tahun 1872 Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. sudah giat membela Islam membalas serangan-serangan dari kelompok Kristen dan kelompok Hindu khususnya Arya Samaj dan Brahmu Samaj. Beliau banyak menulis artikel-artikel berkenaan dengan itu di berbagai media massa. Antara lain jurnal Manshur Muhammadi yang terbit dari Bangalore, Maysore, India Selatan, setiap 10 hari sekali. Kemudian pada beberapa surat-kabar yang terbit dari Amritsar a.l: Wakil; Safir Hind; Widya Prakash; dan Riaz Hind. Demikian pula pada Brother Hind (Lahore), Aftab Punjab (Lahore), Wazir Hind (Sialkot), Nur Afshan (Ludhiana) dan Isyaatus-Sunnah (Batala). Begitu juga pada Akhbar-e-Aam (Lahore). (Lihat: Ahmadiyyat, The Renaissance of Islam, Muhammad Zafrullah Khan, Tabshir Publications, London,1978,h.16; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.63)
Melihat serangan terhadap Islam semakin menjadi-jadi, dan tidak ada upaya berarti yang dilakukan oleh pemuka-pemuka Islam, maka berdasarkan bimbingan dari Allah Ta'ala, Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. mulai menulis buku Barahiin Ahmadiyya. Jilid 1 dan 2 diterbitkan pada tahun 1880; jilid 3 terbit pada tahun 1882; dan jilid 4 pada tahun 1884. Intinya beliau memaparkan bukti-bukti keunggulan dan hidupnya agama Islam serta ketinggian/kemuliaan Kitab Suci Al-Quran dan Rasulullah saw. sebagai perbandingan dengan agama Hindu, Kristen dan agama-agama lainnya.
Pada jilid pertama beliau lebih memfokuskan pada balasan serangan terhadap ajaran Arya Samaj yang menghina Rasulullah saw., Nabi Isa as., dan Nabi Musa as. serta yang menuduh kitab-kitab suci para nabi tsb. adalah palsu. Disamping itu beliau menyerang akidah Arya Samaj yang menyatakan bahwa ruh tidak diciptakan oleh Tuhan, melainkan telah ada dengan sendirinya sejak awal-permulaan. (Barahiin Ahmadiyyah, Rohani Khazain vol.1,h.72; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.70)
Jilid kedua masih berkenaan dengan akidah-akidah Arya Samaj. Kemudian mengenai kedudukan dan perlunya wahyu. Mengenai keunggulan Kitab Suci Al-Quran atas kitab-kitab agama lainnya. Dan juga beliau menekankan kaidah dasar pembuktian kebenaran suatu agama yang harus berdasarkan pada kitab suci yang diakui oleh agama itu sendiri. Pada jilid ketiga beliau merinci keindahan dan kemuliaan Al-Quran. Beliau menjawab serangan-serangan yang ditujukan kepada Al-Quran. Dan beliau menyatakan bahwa beliau menerima wahyu-wahyu dari Allah Ta'ala dan beliau bersedia untuk membuktikan kebenarannya. Pada jilid keempat beliau membahas tentang bentuk asli bahasa umat manusia; tentang kedudukan mukjizat dan pentingnya nubuatan-nubuatan/ khabar-ghaib seorang nabi berkenaan masa mendatang. Beliau memaparkan konsep-konsep agama Budha, Kristen dan Hindu Arya Samaj tentang Tuhan, dan membuktikan keunggulan ajaran Islam. Dan kitab-kitab Yahudi pun beliau paparkan sebagai perbandingan dengan Al-Quran. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.70-76)
Salah satu aspek yang sangat beliau tekankan dan beliau tampilkan sebagai bukti tetap hidupnya agama Islam hingga hari Kiamat adalah adanya hubungan komunikasi yang hidup antara Tuhan dengan hamba-hamba-Nya. Beliau paparkan sendiri pengalaman-pengalaman rohaniah beliau dalam bentuk wahyu, ilham, rukya-rukya, maupun kasyaf.
[Kembali ke Atas]
Reaksi & Dukungan Ummat Bagi Barahiin Ahmadiyyah
Sebelumnya, Hz.Mirza Ghulam Ahmad tidak begitu dikenal. Dan beliau berjuang sendirian. Namun setelah penerbitan buku Barahiin Ahmadiyyah, keadaan menjadi berubah dan beliau mulai dikenal dan tampil secara terbuka. Barahiin Ahmadiyyah mendapat sambutan yang sangat besar dari kalangan umat Islam. Buku ini telah menimbulkan suatu kejutan dan gejolak revolusi besar bagi pihak-pihak non-Islam maupun bagi kalangan Islam sendiri. Para pemuka Islam yang tadinya telah kehilangan nyali, seolah-olah mendapatkan seorang pembela Islam yang ulung sehingga mereka serentak berdiri di belakang beliau mendukung, dalam menghadapi serangan-serangan pihak non-Islam. Berikut ini beberapa kutipan sambutan dan dukungan tokoh-tokoh Islam India pada masa itu.
Mlv.Muhammad Hussein Batalvi, seorang tokoh terkemuka dari kelompok Ahli Hadis di India, banyak memberikan sanjungan terhadap buku Barahiin Ahmadiyyah maupun terhadap penulisnya. Beliau ini adalah seorang tokoh yang sangat mendukung perjuangan Hz.Mirza Ghulam Ahmad a.s. pada mulanya, namun pada akhirnya beliau berubah menjadi penentang keras beliau as.. Di dalam salah satu risalahnya, Mlv.Muhammad Hussein Batalvi menuliskan kesaksian beliau tentang buku Barahin Ahmadiyah:
"Menurut pendapat saya -- pada zaman sekarang dan sesuai kondisi yang berlaku -- buku ini adalah sedemikian rupa, yangmana sampai saat ini di dalam Islam tidak ada bandingannya yang telah ditulis, dan tidak pula ada khabar di masa mendatang.... Penulisnya pun -- dalam hal memberikan bantuan kepada Islam dari segi harta, jiwa, tulisan maupun lisan -- sangat teguh dan kukuh pada langkah-langkahnya. Sehingga sangat sedikit ditemukan contoh yang seperti beliau, walau dari kalangan umat Islam terdahulu sekali pun..." (Risalah Isyaatus-Sunnah jld.7, no.6-11; Swanah Fazl Umar, Jld.I, hal.20)
Kemudian berikut ini ulasan dari seorang tokoh sufi terkenal di India yang berasal dari Ludhiana. Yaitu Hz.Sufi Ahmad Jaan r.a.. Banyak murid maupun pengikut beliau yang menjadi tokoh-tokoh pemuka agama Islam saat itu. Sang sufi ini menuliskan ulasan tentang buku Barahiin Ahmadiyyah di dalam sebuah selebaran beliau yang berjudul Isytihar Wajibul Izhar:
"Di zaman abad ke empatbelas telah berkecamuk sebuah tofan kebobrokan di dalam setiap agama. Seperti yang dikatakan orang: orang-orang kafir baru banyak bermunculan, dan orang-orang Islam baru pun banyak bermunculan. Tidak diragukan lagi, diperlukan sebuah buku dan seorang mujaddid seperti Barahiinn Ahmadiyah serta penulisnya Maulana Mirza Ghulam Ahmad Sahib. [Yaitu] yang dengan berbagai cara siap untuk membuktikan da'wah Islam atas para penentang. Beliau bukanlah berasal dari kalangan ulama maupun cendekiawan umum. Melainkan secara khusus [datang] untuk tugas ini sebagai utusan dari Allah; penerima ilham dan yang bercakap-cakap dengan Allah.... Sang penulis adalah mujaddid, mujtahid, muhaddats bagi abad-keempat belas ini, dan merupakan seorang yang kamil dari kalangan umat ini. Hadis Nabawi ini pun mendukung beliau: 'Ulama ummati kalanbiyaa Bani Israil'... Wahai para penelaah! Dengan niat yang benar serta dengan semangat kebenaran yang sempurna saya menyampaikan hal ini, bahwa tidak diragukan lagi bahwasanya Mirza Sahib adalah mujaddid era ini. [Beliau merupakan] 'pedoman' bagi para pencari jalan [kebenaran]; matahari bagi orang-orang yang berhati batu; penunjuk jalan bagi orang-orang yang sesat; pedang nyata bagi para pengingkar Islam; hujjah sempurna bagi para pendengki. Yakinilah bahwa tidak akan datang lagi masa yang seperti ini. Ketahuilah, bahwa masa ujian telah tiba. Dan Hujjah Ilahi telah tegak. Dan bagaikan matahari jagat raya, telah diutus seorang Haadi Kamil (pemberi petunjuk yang sempurna), supaya ia menganugerahkan nur kepada orang-orang yang benar dan mengeluarkan [mereka] dari kegelapan dan kesesatan. Serta akan menghujjat para pendusta". (Swanah Fazl Umar, jld.I, hal.21-22)
[Kembali ke Atas]
Reaksi Pendukung & Permintaan Untuk Menerima Baiat
Banyak dari kalangan umat Islam yang berkeinginan untuk menjadi murid beliau dan meminta agar beliau mau menerima bai'at mereka.
Pada bulan Maret 1882 pertama kali Hz.Mirza Ghulam Ahmad memperoleh perintah dari Allah Ta'ala bahwasanya beliau dijadikan Ma'mur Minallah (Utusan Allah). Dari itu juga beliau menyatakan diri sebagai Mujaddid. Wahyu ini beliau terbitkan di dalam Barahiin Ahmadiyyah jilid I edisi pertama pada cat.kaki pd.cat.kaki hal.238. (Adapun bunyi wahyu tsb. adalah: "Qul inny umirtu wa'anaa awwalul-mu'miniyn -- [Katakanlah, aku telah diutus/diperintahkan, dan akulah yang pertama beriman]". (Lihat: Tazkirah, Bhs.Urdu, Al-Syirkatul Islamiyah, Rabwah, 1969,h.44; Rohani Khazain jld.1,h.265)
Semenjak awal tahun 1883 sudah banyak orang yang mengutarakan keinginan mereka untuk bai'at di tangan beliau. Namun beliau belum dapat menerimanya sebab belum ada petunjuk dari Allah Ta'ala.
Akhirnya setelah ada petunjuk dari Allah Ta'ala pada bulan Februari atau Maret 1888, maka pada akhir tahun 1888 beliau menyebarkan selebaran undangan untuk bai'at, yang beliau tujukan kepada para pencahari kebenaran.
Dan pengambilan bai'at yang pertama berlangsung di Ludhiana pada tanggal 23 Maret 1889. Pada bai'at pertama ini sebanyak 40 orang menyatakan ikrar bai'at mereka di tangan Hz.Mirza Ghulam Ahmad. Inilah yang dinyatakan sebagai peletakan fondasi pertama dari Jemaat Ahmadiyah (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.139-140, 151-159)
[Kembali ke Atas]
Reaksi & Penentangan Dari Pihak Non-Islam
Sebaliknya, Barahiin Ahmadiyyah telah membangkitkan reaksi keras dari kalangan non-Islam, terutama Hindu Arya Samaj, yang kemudian diikuti oleh kelompok Kristen. Hz.Mirza Ghulam Ahmad mulai menghadapi mereka langsung dengan mengadakan perdebatan-perdebatan.
Yang pertama berlangsung adalah perdebatan beliau dengan seorang guru dan anggota Arya Samaj, Lala Murli Dhar, pada bulan Maret 1886 di Hosyiarpur. Dhar menyerang pendapat Islam berkenaan dengan mukjizat Syaqqul-Qamar, sedangkan Hz.Mirza Ghulam Ahmad mengecam akidah Arya Samaj yang menyatakan bahwa ruh tidak diciptakan oleh Tuhan melainkan telah ada dari sejak awal. (Lihat: Surmah Chasm Arya & Rohani Khazain jld.2,h.49-308; Arya Dharm: Hindu consciousness in 19th century Punjab, Kenneth W.Jones, Univercity of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1976; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,p.4-5)
Kemudian pada tahun 1886 itu juga Pandit Lekh Ram dari Arya Samaj menyerang Hz.Mirza Ghulam Ahmad. Ia menerbitkan buku dan selebaran-selebaran yang mencaci maki Rasulullah saw. dan Islam serta menghina diri Hz.Mirza Ghulam Ahmad as.. Terjadi polemik keras antara keduanya. Pandit Lekh Ram mengalami kematian yang tragis dan misterius pada tahun 1897 setelah adanya nubuatan-nubuatan dari Hz.Mirza Ghulam Ahmad.
[Kembali ke Atas]
Penda'waan Hz.Mirza Ghulam Ahmad & Gelombang Penentangan
Pada akhir tahun 1890 Hz.Mirza Ghulam Ahmad menerima wahyu yang menyatakan bahwa Nabi Isa as. telah wafat dan Almasih yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman itu beliau lah orangnya. (Yakni: "Masih Ibnu Maryam Rasulullah faot hocuka he, aor uske rangg me ho kar wa'dah ke muwafiq tu aya he -- [Masih ibnu Maryam rasul Allah, telah wafat. Sesuai dengan janji, engkau datang dengan menyandang warnanya." (Lihat: Tazkirah, Bhs.Urdu, Al-Syirkatul Islamiyah, Rabwah, 1969,h,183; Izalah Auham, Mirza Ghulam Ahmad,jld.2,h.561-562; Rohani Khazain, Add.Nazir Ishaat, London, jld.3,h.402)
Dan pada awal tahun 1891 beliau menda'wakan diri beliau sebagai Almasih yang dijanjikan atau Masih Mau'ud, dan juga sebagai Imam Mahdi. (Da'watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, terj.Bhs.Indonesia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hal.xii)
Semenjak itu gelombang penentengan semakin marak. Yakni dari kalangan umat Islam sendiri dan juga dari kalangan Kristen. Semenjak itu banyak terjadi perdebatan-perdebatan seputar hidup matinya Nabi Isa. Beberapa perdebatan penting antaranya adalah sbb..
Dari kalangan umat Islam yang menentang justru bekas sahabat beliau yang memberikan dukungan sepenuhnya terhadap karya beliau Barahiin Ahmadiyyah, yaitu Muhammad Hussein Batalwi, seorang tokoh Ahli Hadis terkemuka di India pada masa itu. Sebab Muhammad Hussein Batalwi berakidah bahwasanya Nabi Isa as. masih hidup di langit dan akan turun ke bumi. Perdebatan ini berlangsung di Ludhiana pada bulan Juli 1891.
Kemudian masih mengenai Nabi Isa, berlangsung perdebatan di Delhi pada bulan Oktober 1891 antara Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. dengan Muhammad Nazir Hussein dan Abu Muhammad Abdul Haq.
Dari kalangan Kristen yang tampil adalah Henry Martin Clark, seorang tokoh Kristen yang mendirikan missi kesehatan dari Church Missionary Society di Amritsar pada tahun 1892. Pada bulan April 1893 Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. menerima tantangannya untuk mengadakan perdebatan. Perdebatan itu sendiri berlangsung selama 15 hari pada bulan Mei 1893. Dalam perdebatan tsb. Clark dibantu oleh Abdullah Atham, seorang tokoh Kristen yang berasal dari Islam. Inti perdebatan adalah tentang ketuhanan Jesus.
Pada tahun 1891 Hz.Mirza Ghulam Ahmad menulis buku Izalah Auham dimana beliau memaparkan sebanyak 30 dalil Al-Quran berkenaan dengan telah wafatnya Nabi Isa as..
Pada tahun 1898 diperoleh informasi bahwasanya kuburuan Nabi Isa ada di Srinagar, Kashmir, India. Hz.Mirza Ghulam Ahmad mengirimkan expedisi untuk menyelidiki hal itu. Dan pada tahun 1899 beliau menulis buku Masih Hindustan Me (Almasih di India). Di dalam buku ini beliau memaparkan kesaksian-kesaksian Bible bahwa Nabi Isa itu tidak mati di tiang salib, melainkan selamat dari kematian di tiang salib yang terkutuk itu. Dan dari bukti-bukti sejarah Hz.Mirza Ghulam Ahmad memaparkan bahwasanya setelah peristiwa penyaliban itu Nabi Isa pergi mencari domba-domba Bani Israil yang hilang ke kawasan Asia tengah. Mulai dari Syiria, Iraq, Iran, Afghanistan, sampai ke India. Dan akhirnya wafat dan dikebumikan di Srinagar, Kashmir, India.
Pada tahun 1901 Hz.Mirza Ghulam Ahmad memperjelas penda'waan beliau sebagai nabi zilli (bayangan) dan ummati (selaku umat Nabi Muahammad saw.) yang merupakan berkat mengikuti dan mematuhi sepenuhnya Syariat dan Sunnah Rasulullah saw.. (Lihat: Da'watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, terj.Bhs.Indonesia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hal.xiii)
[Kembali ke Atas]
Karya-karya Tulis Hz.Mirza Ghulam Ahmad
Disamping beliau menghadapi polemik-polemik tsb. dengan berbagai kalangan tokoh agama, Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. sangat giat menulis buku-buku. Tercatat sebanyak 88 judul buku yang beliau tulis di dalam beberapa bahasa, antara lain Bhs.Urdu, Arab, dan Farsi. Kumpulan karya tulis beliau ini kini diterbitkan dalam satu set dengan nama Rohani Khazain yang terdiri dari 23 volume.
[Kembali ke Atas]
Media-media Massa Yg Diterbitkan Oleh Hz.Mirza Ghulam Ahmad
Selain itu Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. di masa hidup beliau juga menerbitkan media-media massa untuk menyebar-luaskan misi pertablighan Islam. Mingguan Al-Hakam (Urdu) mulai terbit sejak tahun 1897. Kemudian Al-Badr mulai terbit sejak tahun 1902, juga dalam Bhs.Urdu. Sedangkan The Review of Religions dalam Bhs.Inggris mulai terbit pada tahun 1902.
[Kembali ke Atas]
Gerakan Al-Wasiyyat & Kewafatan
Pada tahun 1905, berdasarkan petunjuk Allah Ta'ala, Hz.Mirza Ghulam Ahmad mencanangkan suatu gerakan yang dinamakan Al-Wasiyyat. Yakni suatu gerakan pengorbanan harta dalam bentuk wasiyat, untuk memajukan dan menyebar-luaskan Islam ke seluruh dunia. Beliau membentuk sebuah badan utama yang dinamakan Sadr Anjuman. Yaitu yang akan mengelola segala permasalahan sekular missi tsb.. Dan beliau mewasiatkan tentang akan adanya silsilah khilafat yang akan menggantikan beliau dan akan memimpin missi tsb..
Dan Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. wafat di Lahore pada tanggal 26 Mei 1908. Jenazah beliau dibawa ke Qadian dan dikebumikan disana.
[Kembali ke Atas]
Silsilah Khilafat & Perkembangan Ahmadiyah Di Seluruh Dunia
Setelah Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. wafat, beliau digantikan oleh Khalifatul Masih I, yaitu Hz.Mlv.Hafiz Hakim Nuruddin ra.. Pertablighan Islam dan pengembangan missi Ahmadiyah ke Eropa sudah dimulai pada masa beliau ini.
Khalifatul Masih I wafat pada tahun 1914 dan digantikan oleh Khalifatul Masih II, yaitu Hz.Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra.. Pertablighan Islam dan pengembangan missi Ahmadiyah ke seluruh dunia lebih terorganisir. Pengorganisiran itu beliau wujudkan pada tahun 1935 dalam bentuk suatu gerakan yang dikenal dengan nama Tahrik Jadid (Gerakan Baru). Di dalam gerakan ini beliau menghimpun dana sukarela dari para anggota dan mengumpulkan tenaga-tenaga sukarela yang mewakafkan diri mereka untuk pengembangan Islam ke seluruh dunia. Pada masa Khalifatul Masih II ini Jemaat Ahmadiyah telah berkembang di Asia, Eropa, Afrika dan Amerika.
Setelah memimpin selama lebih-kurang 50 tahun, Khalifatul Masih II wafat pada tahun 1965 dan digantikan oleh Khalifatul Masih III, yaitu Hz.Mirza Nasir Ahmad. Beliau wafat pada tahun 1982 dan digantikan oleh Hz.Mirza Tahir Ahmad sebagai Khalifatul Masih IV yang memimpin Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia pada saat sekarang ini.
Kini Jemaat Ahmadiyah telah tersebar di lebih dari 140 negara di dunia. Program-program penyebaran Islam ke seluruh dunia dan pengkhidmatan kepada umat manusia dalam bentuk penghimbauan kepada Allah Ta'ala (Da'wah Ilallah), dijadikan sebagai prioritas utama. Misalnya pengiriman muballigh-muballigh ke manca-negara; penerjemahan Al-Quran dan tafsirnya ke dalam berbagai bahasa (target:100 bahasa dunia). Pembangunan mesjid-mesjid dan sarana-sarana lainnya. Pengembangan literatur-literatur yang menyinggung berbagai aspek. Pengembangan sarana dakwah Islam melalui satelit dalam program MTA (Muslim Television Ahmadiyya) dsb..
[Kembali ke Atas]
Ahmadiyah Di Indonesia
Missi Jemaat Ahmadiyah pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1925. Latar-belakangnya adalah sikap keingin-tahuan beberapa pemuda Indonesia yang berasal dari pesantren/madrasah Thawalib, Padang Panjang, Sumatra Barat.
Thawalib yang beraliran modern, berbeda dengan institusi-institusi Islam ortodox pada masa itu. Misalnya, para santrinya tidak hanya mendalami Bhs.Arab maupun Arab Melayu tetapi juga sudah diperkenankan membaca tulisan Latin.
Beberapa santrinya membaca di dalam sebuah surat-kabar tentang orang Inggris yang masuk Islam di London melalui seorang da'i Islam berasal dari India, Khwaja Kamaluddin. Hal ini sangat menarik perhatian mereka. Dan inilah yang mendorong beberapa santri tsb. untuk mencari tokoh itu. Zaini Dahlan, Abu Bakar Ayyub, dan Ahmad Nuruddin adalah tiga orang santri Thawalib yang berangkat untuk tujuan tsb.. Mereka sampai di Lahore (masa itu masih India, kini masuk wilayah Pakistan) pada tahun 1923.
Dari Lahore mereka lebih dalam masuk ke Qadian dan berdialog dengan pimpinan Jemaat Ahmadiyah pada saat itu, Khalifatul Masih II ra.. Dan akhirnya mereka bai'at dan belajar di Qadian mendalami Ahmadiyah.
Atas permohonan mereka kepada Khalifatul Masih II, maka dikirimlah utusan pertama Jemaat Ahmadiyah ke Indonesia pada tahun 1925. Yaitu Hz.Mlv.Rahmat Ali ra..
Pertama-tama beliau masuk dari Aceh ke Tapaktuan. Tahun 1926 beliau menuju Padang. Dan tahun 1929 Jemaat Ahmadiyah sudah berdiri di Padang. Pada tahun 1930 beliau menuju Batavia/Jakarta, dan tahun 1932 Jemaat Ahmadiyah telah berdiri di Batavia/Jakarta. Mulai dari itu banyak jemaat/cabang-cabangnya berdiri di Jawa Barat dan kawasan-kawasan lainnya. Saat ini Jemaat Ahmadiyah Indonesia dengan 181 jemaat-lokalnya (cabang) telah berdiri di seluruh provinsi di Indonesia.
Pusat Jemaat Ahmadiyah Indonesia sejak tahun 1935 berada di Jakarta. Dan pada tahun 1987 pindah ke Parung, Bogor.

0
Post By: icha

Pancaran sang surya......!!!!! Bahasa Arab, Kunci Ilmu-Ilmu Islam

Pancaran sang surya......!!!!!
Bahasa Arab, Kunci Ilmu-Ilmu Islam
KEMULIAAN BAHASA ARABSesungguhnya bahasa Arab merupakan bahasa yang dipilih oleh Allah untuk agama ini. Tidak ada seorang cerdik pun yang meragukan jikalau peranan bahasa Arab bagi ilmu-ilmu Islam itu sebagaimana peranan lisan bagi segenap anggota badan. Bahkan, tidaklah berlebihan jika kita katakan bahwa sesungguhnya kedudukan bahasa Arab itu ibarat jantung bagi tubuh manusia.
Sebab ia merupakan bahasa agama Islam yang paling luhur. Dengan bahasa inilah Al Qur�an Al �Azhim diturunkan. Allah jalla wa �ala berfirman (yang artinya), "Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur�an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya." (QS. Yusuf : 2)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,"Hal itu dikarenakan bahasa Arab merupakan bahasa yang paling fasih, bahasa yang paling gamblang dalam hal pemaparan, bahasa yang paling luas cakupannya, dan bahasa yang paling banyak menyentuh berbagai makna yang dirasakan di dalam jiwa. Oleh sebab itulah kitab yang paling mulia ini diturunkan dengan bahasa yang paling mulia pula…"
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,"Sesungguhnya tatkala Allah menurunkan kitab-Nya dengan bahasa Arab, tatkala Allah mengangkat Rasul-Nya sebagai penyampai Al Kitab dan Al Hikmah dari-Nya melalui lisan beliau yang berbahasa Arab, tatkala Allah menjadikan orang-orang yang terdahulu membela agama ini dalam keadaan bertutur kata dengan bahasa itu, dan terlebih lagi tatkala tidak ada cara

0
Post By: icha

Solidaritas Sosial Inti Ajaran Islam

Solidaritas Sosial Inti Ajaran Islam
Salah satu nilai positif yang ditanamkan selama bulan suci ramadhan adalah nilai solidaritas sosial. Penanaman nilai solidaritas ini dapat dilihat dari banyaknya amaliah ramadhan yang beriorientasi kepada penanaman empati dan kepedulian sosial.
Pertama , pada bulan Ramadhan kita disuruh untuk menahan haus dan lapar. Salah satu hikmah menahan haus dan lapar tersebut adalah agar setiap muslim merasakan secara langsung bagaimana pedihnya lapar dan dahaga tersebut , meskipun untuk beberapa jam saja.Dengan demikian , dia bisa meyelami perasaan orang – orang miskin yang biasa merasakan pedihnya lapar dan dahaga didalam kehidupan mereka, Kemudian , timbul perasaan empati dan peduli terhadap nasib orang – orang miskin tersebut.
Kedua , bulan Ramadhan bukan sekedar menanamkan perasaan empati dan kepedulian sosial yang bersifat pasif saja. Lebih dari itu , Ramadhan juga mengajarkan tindakan sosial aktif untuk membantu orang yang lemah dan kesusahan. Dalam bulan Ramadhan diwajibkan membayar zakat fitrah kepada fakir miskin agar mereka merasakan kegembiraan , minimal di hari Raya Idul Fitri.Di bulan Ramadhan juga dianjurkan memperbanyak infaq , sedekah dan amal – amal sosial lainnya.
Dengan demikian bulan Ramadhan betul – betul menempa diri seseorang mukmin agar menjadi manusia yang peduli sosial dan gemar melakukan amal yang bermanfa’at bagi orang lain. Inilah yang harus kita lestarikan dan kita tingkatkan terus pada bulan – bulan yang akan datang.
Nilai solidaritas sosial yang diajarkan selama bulan Ramadhan merupakan salah satu inti ajaran Islam. Pentingnya solidaritas sosial di dalam ajaran islam dapat dilihat dari banyak argumentasi dan bukti. Berikut ini dijelaskan beberapa argumentasi dan bukti tersebut

Pertama , Islam memandang solidaritas sosial sebagai bukti keimanan seorang mukmin. Keimanan , menurut hadits Nabi SAW , bukan hanya sekedar keyakinan dan perkataan belaka , melainkan sesuatu yang mengakar kuat di dalam hati , lalu harus dibuktikan dengan amal perbuatan. Salah satu pembuktian imana yang terpenting adalah perbuatan yang menunjukan solidaritas sosial. Nabi Saw bersabda ;
“Nabi saw telah bersabda : Tidak sempurna iman seseorang itu , sebelum dia mengasihi saudaranya , sebagaimana dia mengasihi dirinya sendiri “(H.R Bukhari , Muslim , Tirmidzi , Ibnu Majah , Nasa’i dan Ahmad)
jadi menurut hadis diatas keimanan seseorang layak dipertanyakan jika dia belum bersikap baik , solider dan membantu saudaranya sebagaimana dia berlaku baik dan mematuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Begitu banyak dalil-dalil agama yang menunjukan bahwa solidaritas sosial merupakan pembuktian dari iman. Jika solidaritas sosial tersebut diabaikan atau ditinggalkan , maka akan mengurangi kesempurnaan dari iman seseorang
Kedua , pentingnya solidaritas sosial dapat juga dilihat dari tingginya nilai ibadah – ibadah sosial dalam pandangan islam.Sebagaimana kita ketahui ulama membagi ibadah dalam dua kategori , yaitu ibadah ritual-individual dan ibadah sosial. Ibadah ritual individual adalah ibadah-ibadah yang manfaatnya lebih banyak dirasakan oleh pelakunya, dan tidak menonjol manfaatnya bagi orang lain.Misalnya;Shalat , puasa , zikir dll. Sedangkan ibadah sosial adalah ibadah yan manfaatnya dapat dinikmati oleh pelakunya dan juga orang lain secara langsung,seperti zakat , infak , sedekah , menebarkan salam , melemparkan senyuman , memberikan nasehat , mendamaikan orang dsb.Zakat misalnya sangat bermanfaat bagi pelakunya untuk menumbuhkan sikap dermawan , humanis , tdk individualis , dan tidak diperbudak harta. Disamping itu zakat juga bermanfaat bagi orang lain penerima zakat untuk meningkatkan kesejahtraan hidup.
Ibadah sosial ternyata memiliki nilai yang sangat tinggi dalam islam sebagaimana ditunjukan oleh beberapa dalil berikut.Di dalam Hadists Nabi saw bersabda ;
“Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling dicintai Allah adalah mengembirakan orang muslim , menghapus kegelisahannya , membayar hutangnya , atau mengentaskan rasa laparnya. Sesungguhnya , berjalan untuk membantu seorang teman dalam suatu kebutuhan lebih aku sukai dari pada beri’tikaf di masjid madinah selama satu bulan”(H.R Thabrani)

Namun untuk menghindari salah pengertian , perlu ditegaskan bahwa bukan berarti Islam tidak mengangap penting ibadah ritual individual .Ibadah ritual tersebut sangat penting dalam islam , terutama untuk sarana pembinaan dan pendidikan pribadi muslim.Akan tetapi , nilai shalat dan ibadah ritual lainnya baru terbukti jika diwujudkan dalam pergaulan sosial melalui ibadah sosial.Untuk menguatkan argumen ini , dikemukan sebuah hadis lagi . Suatu ketika , Rasulullah saw ditanya oleh seorang sahabat ;
“Wahai Rasulullah , ada seorang wanita yang dikenal rajin shalat (wajib dan sunat) , puasa dan ibadah lainnya , tetapi ia bersikap kasar kepada tetangganya. Katakanlah , Ya Rasulullah , dimanakah tempat wanita ini nanti? Rasulullah menjawab ;”Dia Masuk Neraka”.Kemudian , sahabat itu kembali bertanya “Wahai Rasulullah , seorang wanita lain tidak banyak melakukan ibadah shalat dan puasa (dikerjakan yg wajib saja) , tetapi dia rajin bersedekah dan tidak pernah menyakiti tetangganya . Katakan wahai Rasulullah , dimana tempat wanita itu nanti? Rasulullah menjawab “Dia akan masuk syorga”.
Ketiga , bukti ketiga tgentang pentingnya solidaritas sosial dapat dilihat dengan banyaknya ayat – ayat al Qur’an dan hadis yang memerintahkan dan menganjurkan untuk melaksanakan ibadah sosial.Dalam satu kajian yang dilakukan imam Khomeini , pemimpin besar revolusi islam iran , disebutkan bahwa perbandingan ayat – ayat ibadah ritual dan ayat – ayat ibadah sosial dalam al Qur’an adalah 1 :100. Ini bisamenunjukan betapa besarnya perhatian islam terhadap solidaritas sosial.
Tiga argumentasi yang dipaparkan diatas sudah lebih dari cukup untuk menunjukan betapa islam sangat mementingkan solidaritas sosial dan menuntut setiap muslim untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari – hari.
Hakikat ibadah sosial tersebut adalah memberi manfaat dan menjadi jalan kebaikan yang sebesar – besarnya kepada orang lain. Inilah yang menjadi ukuran manusia berkualitas.(“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”).

0
Post By: icha

Solidaritas Sosial Inti Ajaran Islam

Solidaritas Sosial Inti Ajaran Islam
Salah satu nilai positif yang ditanamkan selama bulan suci ramadhan adalah nilai solidaritas sosial. Penanaman nilai solidaritas ini dapat dilihat dari banyaknya amaliah ramadhan yang beriorientasi kepada penanaman empati dan kepedulian sosial.
Pertama , pada bulan Ramadhan kita disuruh untuk menahan haus dan lapar. Salah satu hikmah menahan haus dan lapar tersebut adalah agar setiap muslim merasakan secara langsung bagaimana pedihnya lapar dan dahaga tersebut , meskipun untuk beberapa jam saja.Dengan demikian , dia bisa meyelami perasaan orang – orang miskin yang biasa merasakan pedihnya lapar dan dahaga didalam kehidupan mereka, Kemudian , timbul perasaan empati dan peduli terhadap nasib orang – orang miskin tersebut.
Kedua , bulan Ramadhan bukan sekedar menanamkan perasaan empati dan kepedulian sosial yang bersifat pasif saja. Lebih dari itu , Ramadhan juga mengajarkan tindakan sosial aktif untuk membantu orang yang lemah dan kesusahan. Dalam bulan Ramadhan diwajibkan membayar zakat fitrah kepada fakir miskin agar mereka merasakan kegembiraan , minimal di hari Raya Idul Fitri.Di bulan Ramadhan juga dianjurkan memperbanyak infaq , sedekah dan amal – amal sosial lainnya.
Dengan demikian bulan Ramadhan betul – betul menempa diri seseorang mukmin agar menjadi manusia yang peduli sosial dan gemar melakukan amal yang bermanfa’at bagi orang lain. Inilah yang harus kita lestarikan dan kita tingkatkan terus pada bulan – bulan yang akan datang.
Nilai solidaritas sosial yang diajarkan selama bulan Ramadhan merupakan salah satu inti ajaran Islam. Pentingnya solidaritas sosial di dalam ajaran islam dapat dilihat dari banyak argumentasi dan bukti. Berikut ini dijelaskan beberapa argumentasi dan bukti tersebut

Pertama , Islam memandang solidaritas sosial sebagai bukti keimanan seorang mukmin. Keimanan , menurut hadits Nabi SAW , bukan hanya sekedar keyakinan dan perkataan belaka , melainkan sesuatu yang mengakar kuat di dalam hati , lalu harus dibuktikan dengan amal perbuatan. Salah satu pembuktian imana yang terpenting adalah perbuatan yang menunjukan solidaritas sosial. Nabi Saw bersabda ;
“Nabi saw telah bersabda : Tidak sempurna iman seseorang itu , sebelum dia mengasihi saudaranya , sebagaimana dia mengasihi dirinya sendiri “(H.R Bukhari , Muslim , Tirmidzi , Ibnu Majah , Nasa’i dan Ahmad)
jadi menurut hadis diatas keimanan seseorang layak dipertanyakan jika dia belum bersikap baik , solider dan membantu saudaranya sebagaimana dia berlaku baik dan mematuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Begitu banyak dalil-dalil agama yang menunjukan bahwa solidaritas sosial merupakan pembuktian dari iman. Jika solidaritas sosial tersebut diabaikan atau ditinggalkan , maka akan mengurangi kesempurnaan dari iman seseorang
Kedua , pentingnya solidaritas sosial dapat juga dilihat dari tingginya nilai ibadah – ibadah sosial dalam pandangan islam.Sebagaimana kita ketahui ulama membagi ibadah dalam dua kategori , yaitu ibadah ritual-individual dan ibadah sosial. Ibadah ritual individual adalah ibadah-ibadah yang manfaatnya lebih banyak dirasakan oleh pelakunya, dan tidak menonjol manfaatnya bagi orang lain.Misalnya;Shalat , puasa , zikir dll. Sedangkan ibadah sosial adalah ibadah yan manfaatnya dapat dinikmati oleh pelakunya dan juga orang lain secara langsung,seperti zakat , infak , sedekah , menebarkan salam , melemparkan senyuman , memberikan nasehat , mendamaikan orang dsb.Zakat misalnya sangat bermanfaat bagi pelakunya untuk menumbuhkan sikap dermawan , humanis , tdk individualis , dan tidak diperbudak harta. Disamping itu zakat juga bermanfaat bagi orang lain penerima zakat untuk meningkatkan kesejahtraan hidup.
Ibadah sosial ternyata memiliki nilai yang sangat tinggi dalam islam sebagaimana ditunjukan oleh beberapa dalil berikut.Di dalam Hadists Nabi saw bersabda ;
“Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling dicintai Allah adalah mengembirakan orang muslim , menghapus kegelisahannya , membayar hutangnya , atau mengentaskan rasa laparnya. Sesungguhnya , berjalan untuk membantu seorang teman dalam suatu kebutuhan lebih aku sukai dari pada beri’tikaf di masjid madinah selama satu bulan”(H.R Thabrani)

Namun untuk menghindari salah pengertian , perlu ditegaskan bahwa bukan berarti Islam tidak mengangap penting ibadah ritual individual .Ibadah ritual tersebut sangat penting dalam islam , terutama untuk sarana pembinaan dan pendidikan pribadi muslim.Akan tetapi , nilai shalat dan ibadah ritual lainnya baru terbukti jika diwujudkan dalam pergaulan sosial melalui ibadah sosial.Untuk menguatkan argumen ini , dikemukan sebuah hadis lagi . Suatu ketika , Rasulullah saw ditanya oleh seorang sahabat ;
“Wahai Rasulullah , ada seorang wanita yang dikenal rajin shalat (wajib dan sunat) , puasa dan ibadah lainnya , tetapi ia bersikap kasar kepada tetangganya. Katakanlah , Ya Rasulullah , dimanakah tempat wanita ini nanti? Rasulullah menjawab ;”Dia Masuk Neraka”.Kemudian , sahabat itu kembali bertanya “Wahai Rasulullah , seorang wanita lain tidak banyak melakukan ibadah shalat dan puasa (dikerjakan yg wajib saja) , tetapi dia rajin bersedekah dan tidak pernah menyakiti tetangganya . Katakan wahai Rasulullah , dimana tempat wanita itu nanti? Rasulullah menjawab “Dia akan masuk syorga”.
Ketiga , bukti ketiga tgentang pentingnya solidaritas sosial dapat dilihat dengan banyaknya ayat – ayat al Qur’an dan hadis yang memerintahkan dan menganjurkan untuk melaksanakan ibadah sosial.Dalam satu kajian yang dilakukan imam Khomeini , pemimpin besar revolusi islam iran , disebutkan bahwa perbandingan ayat – ayat ibadah ritual dan ayat – ayat ibadah sosial dalam al Qur’an adalah 1 :100. Ini bisamenunjukan betapa besarnya perhatian islam terhadap solidaritas sosial.
Tiga argumentasi yang dipaparkan diatas sudah lebih dari cukup untuk menunjukan betapa islam sangat mementingkan solidaritas sosial dan menuntut setiap muslim untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari – hari.
Hakikat ibadah sosial tersebut adalah memberi manfaat dan menjadi jalan kebaikan yang sebesar – besarnya kepada orang lain. Inilah yang menjadi ukuran manusia berkualitas.(“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”).

0
Post By: icha

TOKOH-TOKOH ISLAM INDONESIA TERKEMUKA

TOKOH-TOKOH ISLAM INDONESIA TERKEMUKA
Sejak pertama kali Islam datang di Nusantara, Allah telah melahirkan tokoh-tokoh besar, para ulama, cendekiawan,
panglima perang, serta pemimpin yang berjasa bagi negeri ini. Mereka berjuang dengan segenap ilmu, tenaga dan
kemampuannya untuk kemajuan Islam dan kemaslahatan ummat. Sangat banyak bila harus dituliskan satu persatu,
karenanya, yang dicantumkan di halaman ini hanya sebagian kecil saja diantara mereka.
• Para da'i pertama di Nusantara
• Fathahillah (Fadhillah Khan Al-Pasai)
• Nuruddin Ar-Raniri
• Syaikh Yusuf Makassar
• Pangeran Diponegoro
• Tuanku Imam Bonjol
• Teuku Umar
• Syaikh Nawawi Al-Bantani
• Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
• Syaikh Hasyim Asy'ari
• Oemar Said Cokroaminoto
• K.H. Ahmad Dahlan
• K.H. A. Hassan
• Buya HAMKA
• Muhammad Natsir
• Muhammad Amien Rais

Post By: icha

Kerajaan- Kerajaan yang Ada di Indonesia

Kerajaan- Kerajaan yang Ada di Indonesia

Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan kejayaannya berlangsung antara abad ke-13 sampai dengan abad ke-16. Timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut didorong oleh maraknya lalu lintas perdagangan laut dengan pedagang-pedagang Islam dari Arab, India, Persia, Tiongkok, dll. Kerajaan tersebut dapat dibagi menjadi berdasarkan wilayah pusat pemerintahannya, yaitu di Sumatera, Jawa, Maluku, dan Sulawesi.

Kerajaan Islam di Sumatera

Periode tahun tepatnya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera masih simpang siur dan memerlukan rujukan lebih lanjut.

* Kesultanan Perlak (abad ke-9 - abad ke-13)
* Kesultanan Samudera Pasai (abad ke-13 - abad ke-16)
* Kesultanan Malaka (abad ke-14 - abad ke-17)
* Kesultanan Aceh (abad ke-16 - 1903)

Kerajaan Islam di Jawa

* Kesultanan Demak (1500 - 1550)
* Kesultanan Pajang (1568 - 1618)
* Kesultanan Mataram (1586 - 1755)
* Kesultanan Cirebon (sekitar abad ke-16)

Kerajaan Islam di Maluku

* Kesultanan Ternate (1257 - 1583)
* Kesultanan Tidore (1110 - 1947?)
* Kesultanan Jailolo
* Kesultanan Bacan

Kerajaan Islam di Sulawesi

* Kesultanan Makasar (awal abad ke-16 - 1667?)
* Kesultanan Buton (1332 - 1911)

0
Post By: icha

Manfaat agama dalam kehidupan

Manfaat agama dalam kehidupan
Sebagaimana kita maklumi bahwa tujuan hidup di dunia ini sejak dahulu kala sampai sekarang dan bahkan sampai hari kiamat nanti adalah ingin mencapai kebahagiaan hidup. Dan untuk itu manusia telah memiliki akal fikiran atau ratio yang memiliki kemampuan yang sangat hebat. Karena dengan akal fikiran tersebut manusia telah dapat memiliki ilmu pengetahuan yang sangat tinggi dan mampu menciptakan alat-alat tehnologi yang sangat canggih, yang apabila hasil penemuan akal fikiran sekarang ini diceritakan pada zaman dahulu kala, niscaya akan dianggap sebagai hal yang irrasional (tidak masuk akal).

Akan tetapi betapapun jenius, brilian dan kecerdasan akal fikiran, ternyata memiliki tiga macam kelemahan pokok yang tidak dapat dipecahkan oleh akal fikiran itu sendiri. Tiga kelemahan pokok tersebut adalah:

Akal fikiran itu tidak dapat mengetahui hakekat kebenaran. Buktinya ialah banyak teori kebenaran yang dikemukakan oleh para ahli filsafat yang berbeda-beda antara teori yang satu dengan yang lain, padahal kita tahu dengan pasti bahwa kebenaran yang sejati hanyalah satu.
Akal fikiran itu tidak dapat mengetahui letak dan hakekat kebahagiaan hidup. Buktinya ialah bahwa seringkali sesuatu yang dibayangkan oleh seseorang akan dapat membahagiakan hidupnya; sehingga dia mengerahkan seluruh fikiran, tenaga dan dana yang ada padanya, namun setelah tercapai, ternyata malah membawa kesengsaraan hidup yang berkepanjangan.
Akal fikiran itu tidak dapat mengetahui asal muasal manusia. Artinya meskipun akal fikiran itu sangat cerdas, jenius, brilian, ternyata tidak dapat menjawab tujuh macam pertanyaan berikut:
Dari mana manusia itu datang sebelum hidup di dunia ini?
Mengapa manusia itu harus hidup di dunia ini?
Siapa gerangan yang menghendaki kehidupan manusia di dunia ini?
Untuk apa manusia hidup di dunia ini?
Mengapa setelah manusia terlanjur senang hidup di dunia dia harus mati; padahal tidak ada seorangpun yang senang mati?
Siapa gerangan yang menghendaki kematian manusia?
Kemana nyawa manusia setelah mati dan bangkainya dikubur?.
Ketiga macam kelemahan akal fikiran manusia tersebut di atas adalah bukti yang nyata bahwa manusia mutlak memerlukan petunjuk yang dapat mengatasi ketiga kelemahan akal tersebut dan yang dapat memberikan bimbing-an kepada manusia agar hidupnya di dunia ini dapat memiliki ketenangan dan ketentraman jiwa yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup.

Petunjuk tersebut dikenal dengan nama agama, yang berasal dari bahasa Sansekerta (bahasa India kuno), yang berarti: a = tidak, dan gama = kacau. Jadi yang dimaksud dengan agama adalah peraturan-peraturan yang dipergunakan untuk mengatur manusia agar hidupnya di dunia ini tidak kacau.

Kalau kita perhatikan seluruh agama yang ada di dunia ini, maka dapat kita kelompokkan menjadi dua kelompok.

0
Post By: icha

Sejarah Masuknya Islam Di Indonesia

Sejarah masuknya Islam di Indonesia
Hijriyah (abad 7 Masehi) meskipun dalam frekuensi yang tidak terlalu
besar melalui jalur perdagangan para pedagang muslim yang berlayar ke
kawasan ini dan singgah untuk beberapa waktu. Pengenalan Islam lebih
intensif, khususnya di Semenanjung Melayu dan Nusantara berlangsung
beberapa abad kemudian.
Setelah itu, terjadilah interaksi yang cukup "kental" antara para
pedagang Arab dan masyarakat Indonesia dalam akulturasi Bangsa Arab
dengan bangsa Indonesia, melalui pendekatan ekonomi (transaksi
perdagangan), penghapusan kasta-kasta dan menggantikannya ke dalam
derajat yang sama, pendekatan dakwah, ikatan perkawinan dan ajaran-
ajaran tasawuf.
Dalam sejarah Islam pernah mengalami kemajuan dan kemunduran.
Kemajuan
Islam terjadi pada masa Khalifah Abbasiah dan Muawwiyah berkuasa.
Islam mengalami kemunduran pada fase akhir Muawwiah di Andalusia
(Spanyol) setelah dikalahkan oleh tentara ratu Issabella dan raja
Ferdinand yang menguasai benteng terakhir Islam di Granada. Selain
itu, pasukan Tar-Tar dan Mongol melakukan penyerangan dengan
memporak-
porandakan Baghdad. Di Negeri Seribu Satu Malam itu mereka membunuh
para fuqoha, ulama dan cendikiawan muslim.
Pada saat yang sama, Islam di Nusantara malah berkembang pesat dan
satu per satu daerah kekuasaan kerajaan di Indonesia masuk Islam.
Banyak raja-raja di Indonesia yang semula memeluk agama Hindu-Budha
mulai memasuki agama Islam. Perkembangan Islam di Nusantara ibarat
(Islam) "mukjizat", karena mampu menggantikan kepercayaan-kepercayaan
dan agama masyarakat Indonesia yang sangat kuat. Selain itu, pada
saat
Islam di kawasan pusat-pusat kekuasan Islam seperti Baghdad, Spanyol
dan lain-lain sedang mengalami kemunduran.
Di Indonesia, saat itu, proses masuknya Islam terhindar dari
peperangan yang besar, bahkan interaksi antara penyebar Islam dan
masyarakat di Nusantara berjalan dengan cara halus dan baik. Padahal,
tantangan penyebaran Islam di Nusantara cukup besar karena masyarakat
Indonesia memiliki kepercayaan animisme dan agama Hindu-Budha sangat
kuat. Kondisi itu mengingatkan akan awal masuknya Islam di tanah Arab
yang kebanyakan menyembah berhala dan kepercayan paganisme. Tapi,
mengapa proses interaksi kebudayaan Islam dan Indonesia dapat
berjalan
lancar di masyarakat Nusatara? Karena para pedagang Arab itu cerdik
memadukan kebudayaan Islam dengan kebudayaan tradisional.
Islam pun memberikan pengaruh kepada institusi politik yang ada. Hal
ini nampak pada tahun 100 H (718 M), saat raja Sriwijaya Jambi yang
bernama Srindravarman mengirim su-rat kepada Khalifah 'Umar bin
'Abdul
'Aziz dari Khilafah Bani Umayyah, meminta mengirimi da'i yang bisa
menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: "Dari Raja di Raja
yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu
raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang
di
wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-
bumbu
wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga
menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja arab yang tidak menyekutukan
tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda
hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tidak begitu banyak,
tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada
saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan
menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya." Dua tahun kemudian,
yakni tahun 720 M, Raja Srindarvarman, yang semula Hindu, masuk Islam
sehingga Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam.
Sayang, pada tahun 730 M, Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya
Palembang yang masih menganut Budha.
Hubungan Nusantara dengan Khilafah Islamiyah
Para pengemban dakwah Islam di Nusantara merupakan utusan langsung
khalifah. Pada tahun 808 H/1404 M Walisongo diutus oleh Sultan
Muhammad I (Sultan Muhammad Jala-bi/Celebi) dari Kesultanan Utsmani
yang dilakukan selama 1 periode. Mereka itu adalah: Maulana Malik
Ibrahim (Turki), ahli tata pemerintahan negara, Maulana Ishaq/Syekh
Awwalul Islam (Samarqand), Maulana Ahmad Jumadil Kubra (Mesir),
Maulana Muhammad al-Maghrabi (Maroko), Maulana Malik Israil (Turki),
Maulana Hasanuddin (Palestina), Maulana Aliyuddin (Palestina), Syekh
Subakir (Persia)
Antara tahun 1349-1406 M, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke
Jawa diantar oleh Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudera Pasai.
Antara tahun 1421-1436 M, datanglah Sayyid Ali Rahmatullah putra
Syaikh Ibrahim (Samarqand), yang lebih dikenal dengan Ibrahim
Asmarakandi, dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid
Ja'far Shadiq/Sunan Kudus (Palestina), dan Syarif Hidayatul-lah
(Palestina) cucu Raja Siliwangi Padjajaran (Sunan Gunung Jati) untuk
menggantikan da'i yang telah wafat.
Mulai tahun 1463 M, banyak da'i dari Jawa yang menggantikan da'i yang
wafat atau pindah tugas. Mereka itu adalah: Raden Paku (Sunan Giri),
putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu,
Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga), putra Adipati
Wilatikta,
Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); Raden Qasim Dua
(Sunan Drajat), putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu
Kertabumi, Raja Majapahit
Dilihat dari gelar mereka, dapat dilihat bahwa dakwah Islam sudah
terbina dengan subur dan baik di kalangan elit penguasa Kerajaan
Majapahit sehingga kesultanan terbentuk dengan mudahnya.
Hubungan Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah terlihat pada tahun 1563 M,
dengan dikirimnya seorang utusan penguasa Muslim di Aceh ke Istambul
untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa
sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk Islam jika
kekhilafahan Utsmaniyah menolong mereka. Namun, bantuan tersebut ter-
tunda selama dua bulan, karena adanya pengepungan Malta dan Szigetvar
di Hungaria dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Akhirnya, dibentuklah
sebuah armada yang terdiri dari 19 ka-pal perang dan sejumlah kapal
yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk memban-tu
masyarakat
Aceh yang terkepung.
Namun, bantuan tersebut hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh,
karena kapal yang lain dialihkan untuk tugas perluasan kekuasaan
Utsmaniyah di Yaman. Kapal yang tiba tersebut mengangkut pembuat
senjata, penembak, teknisi, senjata dan peralatan perang lainnya.
Peristiwa tersebut dapat ditemui di dalam berbagai arsip dokumen
sejarah negara Turki.
Tahun 1048 H/1638 M, Abdul Qadir dari Kesultanan Banten, dianugerahi
gelar Sultan Abdulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif
Makkah saat itu, dan tahun 1051 H/1641 M, Pangeran Rangsang dari
Kesultanan Mataram, meperoleh gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana
Matarami oleh Syarif Makkah.
Tahun 1638 M, Sultan Abdul Kadir Banten mengirim utusan membawa misi
mengha-dap Syarif Zaid di Makkah, misi tersebut sukses sehingga
Kesultanan Banten merupakan kera-jaan Islam dan termasuk Dar al-Islam
dibawah pimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul.
Tahun 1652, Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan dari
Turki beserta sejumlah alat tembak (meriam) beserta amunisi kepada
Kesultanan Aceh setelah adanya per-mintaan dari kesultanan.
Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah,
dari pengiriman da'i hingga bantuan militer, telah dapat dilihat
dengan jelas. Hubungan tersebut juga dapat dilihat pada pengangkatan
Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudera Pasai
Darussalam serta pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan
Banten dan Sultan Agung dari Mataram oleh Syarif Makkah.
Islamlah yang menyatukan daerah di Indonesia, hal tersebut dapat
dilihat tidak adanya nafsu saling menguasai di antara kerajaan-
kerajaan Islam di Indonesia. Kerajaan-kerajaan layaknya sebuah
provinsi-provinsi dalam naungan Daulah Khilafah yang berpusat di
Timur
Tengah.
Kondisi sebelum Islam masuk Indonesia juga terlihat pada saat ini
dimana umat Islam terbagi-bagi dalam national-state (negara
kebangsaan). Setiap negara hanya memikirkan dirinya sendiri, bahkan
ikut serta dalam penindasan negara lain. Seperti halnya yang
dilakukan
oleh Indonesia yang memberi dukungan suara dalam penindasan terhadap
Iran soal reaktor Nuklir. Ataupun Arab Saudi yang menyediakan
tanahnya
sebagai pangkalan termewah Amerika di Timur Tengah untuk menyerang
Iraq dan Afganistan. Padahal satu abad yang lalu mereka masih satu
kesatuan yang saling bahu membahu dalam naungan Islam. Peperangan
terjadi di Nusantara juga bukan dengan masyarakat asli sendiri,
melainkan dengan para penjajah asing seperti Spanyol, Portugis,
Belanda, Inggris. Nafsu para penjajah asing untuk menguasai Nusantara
dengan cara paksa, serakah dan merampok kekayaan masyarakat telah
mengakibatkan perlawanan dari rakyat yang hebat dan tak terelakan.
Bagi masyarakat yang telah memeluk agama Islam, mereka yakin bahwa
perang itu bukan sebatas mempertahankan harga diri dan keluarga, tapi
tanah air dan agama sebagai Jihad fi Sabilillaah.
Islam dan Politik di Indonesia
Islam datang ke Indonesia membawa berbagai macam perubahan tidak
hanya
dibidang spiritual namun juga dibidang sosial dan politik. Lebih-
lebih
lagi dalam kebangkitan perlawanan nasionalisme dan patriotik melawan
kolonialisme-imperialisme bangsa Eropa.
Sudah menjadi konsesus umum dari berbagai para ilmuan sosial,baik di
Barat maupun di Timur,bahwa bangkitnya Islam pada abad ke-8 M telah
membangun dunia baru dengan dasar pemikiran ,cita-cita, kebudayaan
dan
peradaban baru .
kebudayaan dan peradaban baru yang berdaya mengembangkan ilmu
pengetahuan di segala bidang, dengan beragam cabang-cabangnya.
Seperti halnya dengan tiap-tiap peradaban dunia , maka peradaban
Islam
yang berkembang selama tujuh abad (abad 7 - 14 M) akhirnya mengalami
kemunduran.
Menurut Stoddard (1922) sebab kemunduran dunia Islam adalah
superstition and mysticism (ketakhayululan dan mistik) yang merusak
Tauhid.
Sedangkan menurut Kohn(1922) kemunduran umat Islam disebabkan oleh:
abuses, empty formalism and decadence ( penyalahgunaan, formalisme
yang kosong, dan dekadensi)
Ahli sosiologi Muslim, Khaldun(1406) menyatakan bahwa penyebab
kemunduran umat Islam adalah akibat pola kehidupan yang hedonis,
arogan, dan ekploitasi terhadap rakyatnya sendiri. Akibatnya adalah
keropos dalam ketahanan fisik dan dekadensi moral.
Jiwa ashobiah (collective solidarity) dalam segala kehidupan baik
kehidupan group solidarity atau civic solidarity dilupakan.
Faktor lain kemunduran Islam adalah disebabkan oleh kolonialisasi
bangsa-bangsa Kristen-Eropa; yang mula-mula di Semenanjung Iberia
(Andalusi Spanyol) dan serangan Bangsa Monggol dan Tartar dari Asia
Tenggah.
Dalam masa itu Bangsa Eropa justru mengalami proses transisi yang
hebat dengan diinspirasi hasil kajian terhadap kebudayaan Yunani kuno
melalui perpustakaan Dunia Islam di Cordoba,
Granada dan Alexandaria. Eropa mengalami masa Renaisance.
Perkembangan yang luar biasa tersebut dilanjutkan dengan proses dari
masyarakat feodal ke masyarakat fruh Kapitalismus yang kemudian
melahirkan nafsu kolonialisme dan imperialisme. Kerajaan Islam di
Malaka jatuh dibawah kolonialisme Portugis tahun 1511 dan kerajaan
Islam di manila 1571.
Selama dekade awal abad 20, gagasan nasionalisme merupakan fokus
perdebatan politik di dunia Islam. Sebagaian intelektual Muslim tidak
setuju dengan gagasan tersebut dengan alasan
prinsip kedaulatan rakyat bertentangan dengan prinsip hukum Tuhan dan
prinsip ummah . Muhammad Iqbal, penyair dan filosof Asia Selatan,
menegaskan bahwa Islam menghendaki satu kesatuan umat Islam yang
tidak
yang tidak terbatas , dan menyebut kolonialisme Barat sebagai biang
keladi hancurnya persatuan dunia Islam.
Walaupun demikian Iqbal pada akhirnya sadar bahwa upaya membangun
kembali satu bentuk komunitas politik umat Islam yang bersifat
universal sudah tidak mungkin lagi , karena itu masing-masing wilayah
umat Islam harus berjuang meraih kemerdekaannya.
Hingga kini sebagian kecil umat Islam masih tetap menentang prinsip
negara kebangsaan ( nationstate) yang menurut mereka lebih mendudukan
hukum manusia diatas hukum Allah SWT.
Kendati demikian kecendrungan umum pada saat ini bagi umat islam
adalah menerima legitimasi negara model negara kebangsaan dan
mengarahkan politik mereka dalam konteks negara kebangsaan tersebut.
Nasionalisme tidaklah dijahit dari sepotong pakaian seragam. Ide-ide
religius juga memainkan peranan kunci dalam sejumlah gerakan
nasionalisme pada abad 20, termasuk di Eropa Barat-meskipun banyak
teori Barat yang menyatakan sebaliknya.
Sebagai konsekuensinya konsep nasionalisme menjadi lahan perdebatan
yang seru di dunia Islam.
Lebih dari seabad umat Islam bergumul dengan persoalan bagaimana
mempertemukan politik Islam dengan gagasan kebangsaan dan
kewarganegaraan.
Ini terbukti pada kasus di Indonesia dalam pertarungan antara
nasionalisme sekuler dan nasionalisme Islam, perdebatan selama abad
20
adalah menyangkut persoalan peranan Islam dalam konteks gagasan dan
praktek berbangsa.
Organisasi massa modern pertama, Sarikat Islam (SI) didirikan pada
tahun 1912, ditujukan untuk
mengangkat hak-hak politik kaum pribumi yang dengan cepat memperoleh
jumlah pengikut yang besar di Nusantara terutama di pulau Jawa.
SI didirikan untuk kepentingan pedagang pribumi Muslim dalam
menghadapi pedagang Cina. SI awalnya bergantung pada seruan Islam.
Akan tetapi ketika memperoleh jumlah pengikut yang banyak, SI
terlibat
dalam konflik ideologis antara pendukung politik Islam konvensional
dengan ideologi Marxisme-Sosialisme dan nasionalisme sekuler.
Pada tahun 1921 pertentangan antara kedua faksi ini sampai pada tahap
kritis dengan terpentalnya wakil-wakil sayap kiri SI. Pada masa
berikutnya kalangan kiri ( SI Merah) dan Kubu Islam (SI Putih)
bersaing menguasai cabang-cabang SI lokal dan membuat berantakan
perjuangan kaum pribumi dalam merebut kemerdekaan.
Dengan merosotnya peranan SI kepemimipinan perjuangan nasionalisme
beralih ke tangan kaum nasionalis non-religius, diantaranya adalah
PNI
(Partai Nasional Indonesia) yang dibentuk pada tahun 1927 dibawah
pimpinan seorang Ir. Soekarno, PNI merupakan organisasi yang
berbasiskan kebangsaan multietnik, bukan nasionalisme agama.
Nasionalisme merupakan ide asing yang tidak pernah dikenal dalam
Islam
dahulu.
Sebelum masuknya Islam di nusantara, perasaan kedaerahan sangatlah
kuat. Banyak peperangan yang terjadi antar kerajaan-kerajan di
Indonesia. Setelah masuknya peradaban dan kebudayaan Islam di
Indonesia, maka barulah dikenal persatuan di Indonesia dengan
landasan
"aqidah Islam". Persatuan yang terjadi tidak hanya karena adanya
kepentingan antar wilayah, namun disatukan oleh Islam dengan nama
"Daulah Khilafah Islamiyah" atau Negara Khilafah Islam.
Konsep Khilafah bukanlah konsep kedaerahan namun merupakan konsep
global yang menyatukan wilayah-wilayah dengan landasan aqidah Islam.
Oleh karena itu tidaklah aneh ketika kita menyaksikan bahwa Khilafah
Islam telah berhasil menyatukan sepertiga dunia di bawah satu
bendera,
yaitu bendera Islam. Wilayah kekuasaannya terbentang dari Andalusia
(Spanyol) sampai dengan Kepulauan Maluku di Timur.
Penyatuan ini tidak terjadi begitu saja, namun merupakan buah dari
usaha dakwah Islam yang merupakan kewajiban dari Khilafah. Mungkin
tidak banyak yang tahu bahwa terdapat hubungan Nusantara dengan
kekhilafahan yang terjadi pada masa perkembangan Islam di Indonesia.
Sebagai warga Indonesia, kita tidak boleh melupakan hubungan
tersebut,
karena Islam-lah yang telah menyatukan Nusantara ini yang berupa
kepulauan menjadi sebuah Negara yang bersatu sehingga tidak ada lagi
perbedaan dari setiap daerah. Mereka telah terikat sebagai saudara
yang seiman.
Namun setelah Khilafah Islam runtuh (1924), wilayah Islam terbagi-
bagi
menjadi lebih dari 50 negara. Tidak hanya itu, kita menyaksikan
banyak
yang saling bertikai dan batasan dari setiap kelompok (kelompok
Islam)
yang berbeda pendapat. Dan dari masyarakat Islam sendiri kita melihat
adanya kompromi agama dengan agama lain. Mereka dengan tanpa merasa
berdosa telah mengikuti kebiasaan dari orang-orang kafir dengan
alasan
toleransi antar agama.
Disamping perpecahan yang terjadi, negara pun turut campur dalam
pengkeroposan pemahaman Islam di tengah-tengah umat. Hal tersebut
membuat umat Islam tidak peduli lagi dengan agamanya sendiri. Seperti
adanya usaha untuk menghapus Perda Syariat Islam yang merebak akhir-
akhir ini. Dengan mengetahui sejarah Islam di Indonesia, wajarlah
sebagai umat Islam kita ikut serta dalam usaha membangkitkan Islam di
muka bumi ini.

Friends

About Us

Mengenai Saya

Foto saya
aQ orgX sederhna,simple.....y jlasX ng xsal klw udh knal ma aQ.he.........he........

icha

my Kota

Time

Copyright Reserved Welcome to Icha 2010.
Design by: Bingo | Blogger Templates by Blogger Template Place | supported by One-4-All